Home / Info MPASI Bayi / Latar Belakang Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) untuk Bayi
20 Desember, 2017

Latar Belakang Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) untuk Bayi

Posted in : Info MPASI Bayi on by : Ny. Juzsi Aldeska Tag:,

Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) adalah makanan dan
minuman yang mengandung zat gizi, yang diberikan pada bayi atau anak
yang berusia 6-24 bulan guna memenuhi kebutuhan gizi selain dari ASI
(Depkes RI, 2006).

Menurut WHO MP-ASI harus diberikan setelah anak
berusia 6 bulan dan berlanjut sampai usia 24 bulan, karena pada masa tersebut
produksi ASI makin menurun sehingga suplai zat gizi dari ASI tidak lagi
memenuhi kebutuhan gizi anak yang semakin meningkat (WHO, 2003).

Pemberian MP-ASI sendiri menurut Depkes RI (2007) mempunyai aturan
khusus diantaranya bayi usia 0-6 bulan hanya minum ASI, bayi usia 6-9 bulan
minum ASI dan diperbolehkan konsumsi makanan lumat, bayi usia 9-12
bulan, selain ASI juga diperbolehkan konsumsi makanan lumat dan makanan
lunak dan bayi usia 12-24 diperbolehkan konsumsi ASI, makanan lumat,
makanan lunak juga makanan padat.

MPASI Bubur Teri Nasi untuk Bayi +6 Bulan 28 hari yang Lezat dan Bergizi

resep MPASI Bubur Teri Nasi untuk Bayi +6 Bulan 28 hari yang Lezat dan Bergizi

Persepsi adalah pengalaman yang dihasilkan melalui indera penglihatan, pendengaran, dan penciuman. Dengan
persepsi yang benar tentang ibu menyusui dalam pemberian makanan
pendamping ASI pada bayi usia 6-24 bulan (Setiawati dan Dermawan,
2008:57). Kenyataannya di posyandu wilayah kerja puskesmas jambon masih
belum diketahui bagaimana persepsi ibu menyusui tentang pemberian MPASI
di wilayah tersebut. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan
pemahaman masyarakat diwilayah tersebut, jika tingkat pengetahuan dan pemahaman masyarakat sudah cukup dan sebaliknya jika memang pengetahuan dan pemahamannya tentang pemberian MP-ASI masih kurang
(Depkes RI, 2007).

Sampai saat ini pelaksanaan pemberian MP ASI setelah
usia 6-24 bulan pada anak belum jelas. Menurut WHO dari 15.264 bayi 0-11 bulan yang diperiksa, yang
minum ASI eksklusif sebanyak 9.254 bayi (60,6%). yang tidak mendapatkan
ASI eksklusif sebanyak 6.010 bayi (39,3%) sedangkan yang memberikan
makanan pendamping ASI tepat waktu 41%, yang memberikan MP-ASI dini
53%, dan yang ditunda dalam pemberian MP-ASI 5,1%. Di Asia 5,542 bayi
(43,8%) dari 12.642 bayi 0-11 bulan yang diperiksa, yang mendapatkan ASI
eksklusif 7.100 bayi (56,1%) yang tidak mendapatkan ASI eksklusif sebanyak
5,542 bayi (43,8%). Berdasarkan data Riskesdas di Indonesia bayi yang
mendapat ASI eksklusif hanya 30,2% sedangkan yang tidak mendapat ASI
eksklusif 69,8%, ini berarti bayi yang mendapat MP-ASI usia 6-24 bulan
sebanyak 30,2% dan yang mendapat MP-ASI dini sebanyak 69,8%. Di Jawa
timur dari 9.531 bayi 0-11 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif sebanyak
8.578 bayi (90,0%) yang tidak mendapatkan ASI eksklusif sebanyak 953 bayi
(9,9%) dari pemberian ASI eksklusif tersebut yang mengalami penambahan
berat badan sebanyak 450 bayi (5,24%). Di Ponorogo jumlah bayi yang
diperiksa sebanyak 6.593 bayi, yang mendapatkan ASI eksklusif sebanyak
4.629 bayi (70,2%), yang tidak mendapatkan ASI eksklusif sebanyak 1.964
bayi (29,8%) ini berarti jumlah pemberian MP-ASI dini 29,8% dan yang
memberikan MP-ASI sesuai usia 70,2%. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 18 Januari 2015 kemarin dari 10 ibu menyusui yang menjadi responden, ibu menyusui yang persepsinya positif 4 orang
(40%) dan yang persepsinya negatif sebanyak 6 orang (60%). Jika pemberian
akan ASI eksklusif tidak dipenuhi dengan baik dan pemberian makanan
tambahan tidak diberikan setelah bayi membutuhkannya, bayi akan lebih
banyak terserang diare, sembelit, batuk pilek dan panas sehingga
pertumbuhannya dan perkembangannya akan terhambat.

Pemberian MP-ASI yang tidak tepat bukan hanya mengganggu asupan
gizi yang seharusnya didapat bayi, tetapi juga mengganggu pencernaan bayi
karena system pencernaannya belum sanggup mencerna atau menghancurkan
makanan tersebut. Sementara pencernaan bayi yang terganggu tidak hanya
membuat bayi tidak dapat mencerna makanan dengan baik, tapi juga
membuat asupan gizi yang seharusnya diperoleh dari makanan dengan baik,
tapi juga membuat asupan gizi yang seharusnya diperoleh bayi terbuang siasia
karena tidak mampu diserap. Sebagaimana yang telah diketahui, system
pencernaan bayi baru akan siap mencerna makanan dengan kontur yang lebih
padat dari ASI, setelah berusia 6 bulan keatas (Depkes RI, 2007).

Dengan demikian, makanan tersebut akan mengendap di lambung dan menyumbat
salauran pencernaan, sehingga akhirnya bayi terjadi muntah (Nanda pratiwi,
2011). Artinya jika, sebelum berusia 6 bulan bayi telah diberikan makananan
pendamping dengan konstur yang lebih keras dari ASI, dapat dipastikan bayi
akan mengalami permasalahan gizi. ASI merupakan yang baik dan memenuhi
semua kebutuhan nutrisi dari bayi selama 6 bulan pertama. Akan tetapi,
setelah usia 6 bulan ASI saja tidak cukup untuk membuat bayi tumbuh
dengan baik, tambahan makanan lain juga dibutuhkan. Hal ini dikarenakan pertumbuhan bayi dan aktivitas dari bayi yang bertambah, sehingga nutrisi
yang dibutuhkan oleh bayi akan meningkat sesuai bertambahan usia.
Pemberian MP-ASI pada bayi usia 6 bulan keatas disertai dengan pemberian
ASI lanjut adalah hal penting dalam perkembangan dan pertumbuhan bayi
(Arjun & Khanti, 2004).

Menurut Helvetia 2007, mengingat masih banyaknya ibu yang salah
dalam memberikan makanan pendamping ASI dan bahaya yang ditimbulkan
akibat pemberian makanan pendamping ASI secara dini dan tidak sesuai
waktunya, maka diperlukan persepsi yang baik tentang pemberian MP-ASI.
Untuk mencegah kekurangan gizi pada balita yaitu dengan melakukan
penyuluhan gizi pada ibu balita tentang makanan bergizi. Selain itu tenaga
kesehatan, kader-kader kesehatan, di Posyandu wilayah kerja Puskesmas
Jambon untuk memberi arahan dan motivasi ibu agar persepsi ibu dalam
memberikan makanan pendamping ASI sesuai usia baik dan peran petugas
kesehatan terkait untuk memberikan penyuluhan dengan cara memilih,
mengolah, dan menyajikan makanan bagi balita (Wijaya, 2010). Sumber referensi: repository.usu.ac.id.