HomeInfo MPASI Bayi GERAKAN TUTUP MULUT (GTM) PADA BAYI SELAMA MPASI

GERAKAN TUTUP MULUT (GTM) PADA BAYI SELAMA MPASI

Posted in : Info MPASI Bayi on by : Juzsi Aldeska Tag: , ,

Anak selalu menjadi prioritas utama bagi setiap orang tua. Terutama pada masa goldend age di 1000 hari usia anak. Anak membutuhkan asupan gizi nutrisi seimbang untuk perkembangan fisik dan motoriknya. Selama 6 bulan atau 180 hari anak hanya butuh nutrisi yang didapat dari ASI. Menginjak usia 6 bulan atau 180 hari anak mulai diberi Mpasi. Dalam pemberian Mpasi tak jarang sebagian anak langsung merespon atau melahap makananya dengan baik. Ada sebagian anak yang melepeh, menutup rapat mulutnya, menyembur, bahkan memuntahkan makananya kembali yang ada di dalam mulut.
Pada dasarnya melepeh, menyembur, dan memuntahkan kembali makanan yg ada di mulut saat awal Mpasi adalah hal yang wajar. Sebab anak masih belajar mengenal rasa, masih beradaptasi dengan makanan semi padat karena selama 6 bulan yang diterima anak hanyalah cairan (ASI/sufor). Jadi butuh ketelatenan dan kesabaran bunda dalam menghadapi anak yang susah makan atau GTM. Jika dihadapi dengan sabar, insyallah anak akan pintar makan dan lahap.
Ketika anak mulai pintar dan lahap makan, akan ada masa di mana anak akan sulit makan (GTM). Apalagi GTM nya anak diikuti berat badan yang menurun atau tak kunjung naik. Padahal di usia ini, asupan nutrisi yang berkembang sangatlah penting bagi tumbuh kembang anak. Jika berat badan anak stag selama 2 bulan atau tidak ada kenaikan yg diikuti dengan prilaku anak yang malas makan sebaiknyan segera konsultasikan ke dokter. Dikhawatirkan anak terkena ADB, ISK, TB dll. Serta Harus tetap observasi jika ada indikasi yang mengarah ke ADB, ISK, dan TB. Bukan berarti anak malas makan ada indikasi terkena penyakit tersebut.
Biasanya karena panik dan bingung, orang tua menjadi lebih permisif pada anak. Misalnya membiarkan anak hanya makan biskuit favoritenya, hanya memberikan susu sebagai pengganti makananya atau mengijinkan anak mengonsumsi junkfood kesukaanya secara terus-menerus. Ada pula orang tua yang sibuk mencari vitamin penambah nafsu makan, mengajak anak makan berkeliling kompleks saat waktu makan. Padahal cara ini dapat membuat anak bisa sakit, karena makananya bisa terkena debu atau yang lain. Bahkan Ada juga yang mengajak anaknya makan sembari bermain. Benarkah ini?
Menurut penelitian multisenter IDAI, penyebab tersering GTM pada anak adalah inappropiate feeding practice, prilaku makan yang tidak benar atau pemberian makan yang tidak sesuai usia. Sering kali hal ini terjadi sejak fase penyapihan atau waktu dimulainya pemberian makanan pendamping ASI (MPASI). Pemberian makan yang benar harus memperhatikan beberapa hal seperti tepat waktu, kuantitas dan kualitas makanan, kebersihan penyiapan dan penyajian makanan serta harus sesuai tahapan perkembangan anak. Pemberian makanan sesuai tahapan perkembangan anak mencakup tekstur makanan dan perbandingan makanan padat serta cair.
Apa sih yang seharusnya dilakukan orangtua untuk mencegah agar tidak mogok makan? Jawabannya adalah dengan melatih perilaku makan yang benar (feeding rules) pada anak. Bagaimana caranya?
Dos:
1. Atur jadwal makanan utama dan makanan selingan (snack) yang teratur yaitu tiga kali makanan utama dan dua kali cemilan. ASI tetap diberikan semaunya anak. Tapi jangan sampai memengaruhi jam makannya. Misalnya jika anak menangis diberi asi, saat jatuh ditenangkan dengan asi dan saat mendekati jam makan anak diberi asi sampai kenyang. Jadwal menyusu dan jam makan sangat berdekatan sehingga saat diberi makan anak akan muntah atau menolak. Maka perlu diberi jeda atau jadwal menyusu, cemilan dan makan utama bagi anak agar pola makannya tetap terjaga. Untuk anak sufor beri jeda antara makan dan menyusu selama 2 jam. Dan saat usia anak sudah memasuki 12 bulan atau lebih susu hanya sebagai selingan saja. Batas pemberian susu adalah 500 ml/hari.
2. Batasi juga waktu makan tidak boleh lebih dari 30 menit. Sebab waktu 30 menit yang digunakan untuk anak makan adalah mengajarkan anak agar disiplin dalam melahap makannya. Lewat 30 menit makanan mulai dingin dan anak mulai bosan. Nafsu makan juga menurun. Alhasil baginya makan bukanlah prioritas utama. Untuk selanjutnya beri anak makan porsi sedikit tapi frekuensi makan ditambah. Misalnya kelang sejam dari makan atau lebih anak bisa ditawarkan makan kembali.
3. Buat lingkungan yang menyenangkan untuk makan. Biasakan makan bersama keluarga akan membuat anak lebih responsive. Sebab anak adalah peniru yang ulung. Ketika ayah dan bundanya memasukan sesuatu ke dalam mulut maka ia akan ikut menirunya. Baginya halini akan membuat anak menjadi senang apalagi ketika anak pintar memasukan makan dan ia mendapat pujian dari orang tuanya maka ia akan semakin lahap memakan makananya.
4. Dorong anak untuk makan sendiri. Bila anak menunjukkan tanda tidak mau makan (mengatupkan mulut, memalingkan kepala, menangis), tawarkan kembali makanan tanpa memaksa. Bila setelah 10-15 menit anak tetap tidak mau makan akhiri proses makan. Latih anak untuk mengenali rasa kenyang dan laparnya sendiri. Jika anak kenyang maka ia akan menolak utk diberi makan. Jika ia lapar maka ia akan menagis, atau mengucapkan sesuatu yang menyatakan ia lapar. Dan ibu harus paham dalam hal ini. Oleh karena itu, mengenalkan rasa lapar pada anak itu perlu agar anak lahap memakan makannaya.
Donts:
1. Jangan memaksa anak makan, apalagi sampai memarahinya.sebab akan membuatnya trauma bahwa jam makan itu adalah hal yang menakutkan baginya. Di sinilah mengemut makanan terjadi. Semakin sering kita memarahinya maka mengemut makanan akan menjadi kesenangan baginya. Sebab mulut sering dijadikan pelampiasan anak sebagai sumber kenikmatan baginya baik saat suasana hatinya senag maupun sedih.
2. Jangan membiasakan anak makan sambil melakukan aktivitas lain seperti bermain, menonton televisi, berjalan-jalan atau naik sepeda. Sebab yang terkonsep dalam pikirannya nanti adalah kalau mau makan harus nonton televisi, makan harus main sepeda, makan harus nonton video atau makan harus jalan-jalan. Cara ini adalah hal yang kurang tepat untuk dilakukan.
3. Jangan memberikan minuman lain selain air putih di antara waktu makan.
4. Jangan menjadikan makanan sebagai hadiah.
Faktor-faktor penyebab anak/bayi mengalami GTM
1. Sedang tumbuh gigi
Anak yang sedang mengalami tumbuh gigi cenderung menolak makanan dikarenakan rasa yang tidak nyaman pada gusinya. Bayangkan kita saja yang dewasa kalau sakit gigi pasti kurang lahap makan atau bahkan tidak mau makan. Begitu pula anak yang lagi tumbuh gigi. Gusinya akan terasa sensitif dengan makan makanan yang keras. Oleh karena itu, disarankan untuk turun tekstur saat anak tumgi. Bisa bubur atau saring dalam bentuk puree. Untuk cemilan beri buah yang dingin jika anak tidak ada alergi terhadap makanan dingin. Es lolly atau es krim homemade.
2. Sedang sakit/tidak enak badan
Jangankan pada anak, kita saja yang sudah dewasa jika sedang sakit juga tidak nafsu makan. Solusinya buatkan makanan kesukaan anak. Ibu pasti paham apa makaanan kesukaan anaknya. Bisa juga buatkan sup hangat atau jus. Paling utama sembuhkan dahulu sakitnya selanjutnya nafsu terhadap makanan akan mengikuti.
3. Bosan
Variasikan menu makanan. Ubah pola pikir bahwa makan berarti harus makan nasi. Ganti nasi dengan bahan-bahan lainnya seperti pasta, kentang, ubi, mee sua, macaroni, dll. Jika anak bosan dengan makanan berkuah, coba berikan makanan yang kering tanpa kuah. Terkadang kita lupa bahwa kita orang dewasa saja tidak selalu makan nasi kan? Ada kalanya kita pun ingin makan mie ayam. Kalau anak bosan dengan tekstur makanan biasa yg seperti ia makan, maka naikan tekstur makananya. Misal awalnya hanya puree naikan ke puree agak kasar bisa dilatih dengan 30%lumat 70%kasar begitu selanjutnya. Naik tekstur mengajarkana nak mengunyah dan mengunyah sangat baik utk pergerakan rahang anak serta mempercepat pertumbuhan gigi. Atau kenalkan anak makan dalam bentuk finger food. Jika anak bosan dengan suasana makan yang monoton, buat jadi lebih ceria dengan makan bersama dengannya dan berikan pujian jika anak mau makan.
4. Trauma pada alat makan
Trauma bisa terjadi pada anak misalnya trauma pada sendok karena terlalu sering dipaksa makan atau disuapi obat. Kalau anak trauma pada sendok bisa disuapi dengan tangan atau ajarkan anak makan dengan finger food. Ganti alat makan dengan warna yang mencolok dan menarik. Karna pada dasarnya anak suka dengan warna yang mencolok.
5. Memilih makanan/picky eater
Anak kecil pun memiliki jenis-jenis makanan yang dia sukai dan tidak sukai. Ketika dia tidak suka terhadap satu jenis makanan bisa membuatnya menutup mulut dan tidak mau makan. Oleh karena itu mpasi yang kami sarankan adalah homemade bunda lebih bisa berkreasi semenarik mungkin agar anak lahap makan. Bisa mencobakan menu-menu baru untuk anak. Sementara anak yg terbiasa makan mpasi instan akan cendrung untuk picky eater sebab sudah terbiasa dengan makanan yg gurih dan manis juga terbiasa dengan tekstur yg lembut.
6. Tidak fokus
Makan dengan kondisi ada banyak mainan atau orang disekitarnya bisa membuat anak tidak fokus dan lebih memilih untuk bermain daripada makan. Jadi sebaiknya ini dihindari. Dalam meja makan atau ruangan makan hanya ada ibu, anak dan makananya.
Kesimpulan dari mengatasi GTM pada anak adalah sebelum memberi makan ciptakan dahulu suasana nyaman dan senag kepada anak. Disiplinkan anak makan dengan durasi 30 menit habis tidak habis di stop. Beri porsi sedikit frekuensi makan di tambah. Jika ditengah-tengah anak makan ia mulai GTM jangan memarahinya apalagi memukulnya beri ia respon yang positif serta pujian. Makan bukan proses membuat anak menjadi gemuk akan tetapi asupan gizi yang terpenuhi itulah yang paling utama. Bunda harus pintar dalam berkreasi dan jangan patah semangat. Sebab setiap anak akan mengalami fase di mana ia akan malas makan. Jadi bunda harus sekreatif mungkin menciptakan ide-ide agar anak terlepas dari yang namanya GTM. Tetap semangat ya bunda. Semoga postingan ini membantu bagi bunda yang anaknya saat ini sedang GTM.
Referensi:
Ikatan Dokter Anak Indonesia, UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik. Pendekatan diagnosis dan tata laksana masalah makan pada batita di Indonesia. Jakarta: IDAI;2014. 13 hal.

error: Content is protected !!