Menjadi Cowok Yang Pintar Masak “MPASI”

Masyarakat Indonesia mayoritas menganut sistem patriaki, atau disebut sebagai garis keturunan ayah. Dalam sistem patriaki tersebut, seorang ayah memiliki kedudukan yang tinggi dalam keluarga atau lingkungan sosial tertentu. Sehingga peran seorang ayah hanya diberikan kedudukan sebagai kepala keluarga serta menanggung biaya hidup istri dan anak. Sementara itu, seorang istri biasanya kedudukannya dianggap lebih rendah daripada ayah, sehingga para istri dipandang bekerjanya hanya di dapur dan merawat anak. Pandangan ini sebenarnya saya justru sangat menolak. Karena baik cowok maupun cewek semuanya punya porsi dan peran yang bisa diekspresikan dengan berbagai macam kegiatan, tentunya memiliki peran strategis dalam keluarga, bisa sama juga berbeda dalam peran yang dibawakannya. Semua gender menurut saya setara dan tidak boleh dibeda-bedakan peranannya dalam lingkup keluarga maupun masyarakat.

Yang saya tahu, dalam sistem patriaki akan menggap aneh jika seorang cowok itu masak. Karena saya dan keluarga adalah orang Jawa, jadi banyak di kalangan teman-teman saya yang juga suku jawa beranggapan keliru bahwa jika seorang cowok memasak dan terkesan feminim akan dianggap sebagai “banci”, karena menurut mereka tugas masak-memasak adalah tugas para cewek. Cowok akan dianggap maskulin jika hanya berkutat pada pekerjaannya sebagai pekerja keras.

Dan yang paling hebohnya, pernah karena waktu itu saya mau buat sambel terasi, eh kebetulan terasi di dapur habis, akhirnya saya izin ke ibu mau ke warung untuk beli terasi, akhirnya dilarang karena beliau bilang begini ke saya: “wong lanang ora usah tuku terasi, ngisin-ngisini” (anak cowok jangan beli terasi, memalukan).

Mendengar ucapan ibu sebenarnya agak risih karena menurut saya cuma beli terasi saja kan? apakah ini berdosa? apa iya dengan cuma beli terasi akan menurunkan derajat kelaki-lakian? ah, entahlah….

Sebenarnya saya termasuk cowok yang kurang setuju dengan garis patriaki itu, dan saya gak banyak melarang jika seorang cowok itu pintar masak, pintar ngurus anak-anaknya di rumah, nyuci baju, nyetrika, dan lain sebagainya. Menurut saya ini bukan perbuatan yang memalukan bagi seorang cowok. Namun, banyak saya jumpai masih ada cowok yang malu dan gak bisa masak. Haduh, bisa dibayangkan nanti gimana kalo istrinya lahiran atau sedang sakit, siapa yang akan masak untuk anak-anaknya coba? kalo pun beli makanan secara online, okelah bisa, tapi apakah itu menjamin bahwa setiap orang punya uang lebih. Nyatanya, ilmu masak juga penting kan bagi seorang cowok, ya biar sedikit-sedikit bisalah masak sayur yang enak. Bahkan kalo kita lihat di televisi, ada program Masterchef Indonesia, yang para jurinya (Chef Arnold dan Chef Juna) dan juga pesertanya cowok-cowok dan pintar masak, lantas apakah mereka bisa kita katakan sebagai “banci”? Tentu tidak ya kan? Karena bisa jadi aktivitas dan kesukaan masak-memasak adalah minat dan hobi yang perlu diapresiasi.

Belajar Masak Dan Ilmu Parenting Sebelum Menikah

Sebelum menikah saya selalu mengusahakan agar sedikit-sedikit bisa masak, jadi gak cuma bisanya masak mie instan atau ngerebus air doang. Belajar ilmu parenting dan bagaimana mengurus bayi juga perlu. Misalnya saya belajar ilmu tentang nutrisi dari resep Makanan Pendamping ASI (MPASI) untuk bayi.

Menurut saya pribadi, belajar MPASI itu seru sekali dan cowok juga perlu tahu hal semacam ini. Karena belajar MPASI untuk bayi ini penting bagi calon ayah atau yang sudah jadi ayah guna mendekatkan emosionalnya dengan si kecil.

Dari pengetahuan ayah terkait ilmu dasar MPASI tentu saja akan memberikan dampak pengetahuan yang bisa disharing ke calon pasangannya (istri). Bahwa MPASI ini adalah makanan pendamping selain ASI yang bisa menjadi sumber nutrisi penting bagi bayi.

Jika seorang ayah paham MPASI dan cara mengolahnya, tentu gizi harian anak-anaknya yang masih umur 6 bulan ke atas (selama program MPASI) akan tercukupi dengan baik. Dan pada akhirnya anak-anak mereka akan tumbuh dan berkembang dengan baik pula.

Infografik oleh: Wahid Priyono

Dan saya semakin meyakini bahwa, tumbuh kembang anak akan semakin bagus jika ayah dan ibunya paham ilmu parenting, termasuk memahami makanan MPASI ini. Beberapa manfaat MPASI yang akan diterima bayi seperti:

  • menambah nutrisi harian si kecil supaya tidak mengalami defisiensi gizi (gizi buruk) seperti penyakit marasmus dan kwashiorkor;
  • meningkatkan laju pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya;
  • meningkatkan daya nalar termasuk kecerdasan si kecil;
  • memperkenalkan berbagi macam jenis makanan yang ada di sekitar baik yang berasal dari makanan berkarbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral;
  • mencegah si kecil/bayi dari gejala Gerakan Tutup Mulut (GTM) saat disuapi makanan MPASI;
  • menghindari bayi dari alergi berbagai aneka makanan;
  • menjadikan bayi lebih aktif dan sehat karena gizi hariannya terpenuhi dengan baik;
  • meningkatkan sistem imunitas tubuh sehingga tidak mudah demam, sakit, karena antibodinya terbentuk dengan baik melalui makanan yang dikonsumsinya.

Yuk Masak MPASI Pure Apel dan Pear Tanpa Blender (Untuk Bayi Umur 6 Bulan)

Memasak MPASI Sebagai Makanan Sehat Buat Anak sangat mudah lho, walaupun kamu seorang cowok/ayah juga bisa memulai langkah ini.

Sebagai pengetahuan bahwa buah apel dan pear/pir merupakan 2 jenis buah yang paling sering digunakan untuk program MPASI bayi. Kedua buah ini sangat populer dan banyak mengandung vitamin dan mineral. Buah apel dan pir sering dijadikan sebagai bahan olahan buah (puree) yang sangat disukai bayi. Tekstur puree yang lembut dan kental sangat disukai bayi terutama untuk bayi umur 6 bulan ke atas. Bahkan pada umur 7 bulan, 8 bulan hingga hampir 12 bulan, bayi masih menyukai pure apel ini. Dan tidak ada salahnya jika para ayah mencoba membuat puree apel dan pir ini.

Karena setiap keluarga ada yang mempunyai alat blender dan ada juga yang tidak, maka berikut ini saya akan bagikan tips bagaimana cara membuat puree apel dan pear tanpa diblender secara mudah dan praktis. Namun, jika anda punya blender, bisa dipakai juga untuk membuat MPASI ini:

Adapun bahan-bahan dan cara mengukus buah apel dan buah pir untuk MPASI bayi yang baik dan benar sesuai prosedur yaitu sebagai berikut:

#1 Cara Mengukus/Merebus Buah Apel untuk Dijadikan Pure Apel (MPASI Bayi Umur +6 Bulan Ke atas):

Bahan-Bahan:

  • 1 buah apel merah/hijau, cuci bersih;
  • Air bersih secukupnya untuk mengukus;
  • 25 ml air matang

Cara Membuat:

  1. Kupas kulit apel, buang biji dan bagian-bagian yang keras di dalamnya, lalu potong-potong;
  2. Kukus apel sampai empuk/lunak dengan air secukupnya, kurang lebih sekitar 20 menit;
  3. Angkat apel dari air rebusan, tiriskan beberapa saat;
  4. Haluskan apel yang telah dikukus dengan 25 ml air matang (jika air kurang bisa ditambah), tumbuk sampai halus menggunakan alu kecil, atau bisa dipenyet-penyet menggunakan sendok;
  5. Setelah dihaluskan, lalu masukan ke dalam wadah/mangkuk, lalu puree apel siap diberikan kepada bayi;

#2 Cara Mengukus/Merebus Buah Pir/Pear untuk Dijadikan Puree/Bubur MPASI Bayi Umur +6 Bulan Ke atas:

Bahan-Bahan:

  • 1 buah pir, cuci bersih;
  • Air bersih secukupnya untuk mengukus;
  • 25 ml air matang

Cara Membuat:

  1. Kupas kulit pir, buang biji dan bagian-bagian yang keras di dalamnya, lalu potong-potong;
  2. Kukus daging buah pir sampai empuk/lunak dengan air secukupnya, kurang lebih sekitar 20 menit;
  3. Angkat pir dari air rebusan, tiriskan beberapa saat;
  4. Haluskan daging pir yang telah dikukus dengan 25 ml air matang (jika air kurang bisa ditambah), tumbuk sampai halus menggunakan alu kecil, atau bisa dipenyet-penyet menggunakan sendok;
  5. Setelah dihaluskan, lalu masukan ke dalam wadah/mangkuk, lalu siap diberikan kepada bayi;

Cukup mudah sekali ya untuk membuat puree apel dan pir tanpa menggunakan blender. Cowok pun bisa masak MPASI seperti langkah-langkah yang dijelaskan di atas. Silakan anda baca juga tulisan saya berikut ini:

Sampai sebegitu pentingnya MPASI ini, akhirnya saya juga banyak menuliskan berbagai macam tulisan tentang info bahkan resep MPASI di website yang sedang anda kunjungi ini. Mudah-mudahan bisa memberikan banyak hidangan informasi untuk semua orang yang membutuhkan.

Harapan saya juga selain peran ibu-ibu (cewek) yang pandai mengolah makanan bayi (MPASI), saya juga berharap cowok-cowok di luar sana yang masih jomblo dan berharap tahun 2021 akan menikah semoga sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari untuk belajar MPASI.

Sekian, semoga catatan di atas bermanfaat dan merubah mindset berpikir kuno menjadi pemikiran yang lebih baru dan luwes 🙂

*Sumber Referensi Pendukung: Editing gambar melalui Canva, gambar oleh Canva, resepmpasi.com, mpasi.org.

5 thoughts on “Menjadi Cowok Yang Pintar Masak “MPASI””

  1. Wow saya kasi jempol yang banyak buat mas Wahid. Benar-benar Ayah siaga. Jarang-jarang lho ada Ayah yang jago buat MPASI

    Suamiku sih cukup ringan tangan bantu kerjaan rumah tangga, tapi kalau sampai masak MPASI belum pernah deh.

    Saluuuut sama mas Wahid
    Semoga bahagia selalu bersama keluarga

  2. wahahaha jadi inget nih dulu sering bikinin mpasi buat anak-anak waktu masih bayi, seru sih mas, cowok juga ga kalah kok, lagian kasian kan istri udh capek gendong n kasih asi, capek tapi karena dinikmati bareng2 jadi gak kerasa capek

  3. Masalah rumah tangga bukan tugas wanita aja, tapi pria kudu ikut bertanggung jawab terutama mengenai dedek bayi.
    semoga artikelnya membantu bapack-bapack dan yang masih jadi bapack edisi revisi semoga membuka wawasannya, terus mencari referensi khususnya mengenai MPASI

Comments are closed.